Filosofi Gunungan Wayang

Filosofi Gunungan Wayang

Wayang merupakan salah salah atu warisan budaya yang harus dilestarikan. Seni wayang sudah sangat terkenal di negara sendiri bahkan sampai ke luar negeri. Dalam setiap pertunjukan pewayangan, ada salah satu benda yang selalu hadir di tengah setiap kali pertunjukan wayang dimulai. Benda tersebut adalah gunungan wayang. Lalu untuk apa kegunaan atau fungsi gunungan wayang?

Sebelum memulai sebuah pertunjukan, seorang dalang biasanya akan mengeluarkan gunungan atau kayon terlebih dahulu. Gunungan memiliki arti yang sangat dalam, oleh karena itu sebagai generasi muda kita perlu tahu apa makna dan filosofi dari gunungan wayang. Mari kita uraikan secara detail mengenai filosofi gunungan wayang apabila dilihat mulai dari bentuk, gambar yang tertera di gunungan wayang dan sebagainya. 

Gunungan wayang memiliki dua sisi yaitu depan dan belakang. Di setiap sisinya terdapat gambar yang memiliki filosofi masing masing. Gambar-gambar tersebut Antara lain:

1.Disisi depan terdapat beberapa gambar yakni Gunung, Pohon, Mustika, Makara, Burung Merak, Banteng, Kolam, Gapura atau pendopo suwung, Gupala, Sayap (lar-laran), Tanah, Harimau, sosok wayang Pria dan Putri.

2. Dibagian belakang terdapat simbol api, muka monster dan simbol lukisan langit (awan) atau bisa juga dimaknai asap. Simbol-simbol itu tidaklah sama antara Gunungan satu dengan lainnya, karena simbol tersebut merupakan tanda tahun atau kapan Gunungan itu dibuat. tanda itu disebut sebagai candra sengkala. 

Gunungan pada wayang kulit berbentuk kerucut (lancip ke atas) melambangkan kehidupan manusia. Semakin tinggi ilmu dan tuanya usia, manusia harus semakin mengerucut pada satu tujuan yaitu hubungan baik dengan sang pencipta. Seseorang harus semakin mendekatkan diri kepada sang Pencipta baik jiwa maupun raga. 

Gapura dan dua penjaga pada Gunungan Wayang Kulit (Cingkoro Bolo dan Bolo Upoto), merupakan lambang dari hati manusia yang mempunyai sifat baik dan buruk. Kemudian ada tameng dan gadha yang dipegang oleh raksasa mengartikan bahwa mereka adalah penjaga alam.

Pohon besar yang tumbuh melilit badan dan puncak gunungan melambangkan segala daya upaya dan perilaku manusia harus bergerak maju  secara dinamis sehingga manusia mampu bermanfaat, mewarnai dunia dan alam semesta akan kebaikan. Selain itu, pohon besar yang terdapat pada gunungan juga merupakan lambang bahwa Tuhan selalu memberi perlindungan dan rasa aman bagi setiap manusia yang hidup di dunia ini.

Burung melambangkan bahwa manusia harus membuat dunia dan alam semesta menjadi di lebih indah dalam hal spiritual dan material. Benteng pada gunungan melambangkan manusia harus kuat, lincah, ulet, dan tangguh. Sedangkan kera melambangkan sifat manusia harus seperti kera mampu memilih dan memilah baik-buruk, manis-pahit, karena kera mampu memilih buah yang baik, matang dan manis. Harapannya, manusia dapat memilih perbuatan baik dan buruk.

Harimau di alam liar dilambangkan sebagai raja hutan, namun pada gunungan harimau dilambangkan bahwa manusia harus mampu menjadi pemimpin untuk dirinya sendiri terlebih dahulu (punya jati diri), bertindak bijak dan mampu mengendalikan hawa nafsu serta hati nurani untuk menjadi manusia yang lebih baik, yang pada akhirnya bermanfaat bagi diri sendiri, orang lain, dan lingkungan sekitar. Rumah joglo menggambarkan suatu rumah atau Negara yang didalamnya memiliki kehidupan aman, tenteram, dan bahagia.

Makna-makna dari setiap gambar pada gunungan wayang memiliki arti yang sangat apik. Oleh karena itu, salah satu cara kamu menjaga dan melestarikan wayang adalah dengan memiliki atau membeli barang tersebut kemudian dipajang di rumah. Gunungan yang ada di toko ini adalah gunungan asli versi dalang yang apabila kamu membeli, sama dengan kamu melestarikan dan menjaga agar budaya asli Indonesia itu tetap terjaga dan sampai kepada anak cucu.